post image

Hilirisasi dan AI Jadi Arah Ekonomi Baru, Wakil Wali Kota Bekasi Serap Gagasan di Investor Daily Summit 2026

  • Administrator
  • 12 Okt 2026
  • Ragam
  • 48 Lihat

JAKARTA, Bintang _Save.com – Hilirisasi industri, penguatan investasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi sejumlah isu strategis yang mengemuka dalam Investor Daily Summit (IDS) 2026. Forum ekonomi nasional yang berlangsung di Hotel Raffles Jakarta pada 7–8 Oktober 2026 tersebut menjadi ruang diskusi mengenai arah transformasi ekonomi Indonesia di tengah perubahan global.

Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe turut menghadiri pembukaan forum yang mengusung tema “Indonesia’s New Economic Model” pada Rabu (7/10/2026). Kehadirannya menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bekasi mengikuti perkembangan pemikiran dan kebijakan ekonomi nasional yang berpotensi memengaruhi pembangunan daerah.

Forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah, pelaku usaha, investor, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membahas prospek investasi, penguatan industri, pemanfaatan teknologi, dan strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Abdul Harris menilai tema yang diangkat dalam Investor Daily Summit 2026 relevan dengan tantangan pembangunan saat ini. Menurutnya, penguatan investasi, hilirisasi, transformasi ekonomi, serta pemanfaatan teknologi perlu menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing Indonesia.

“Investor Daily Summit 2026 memberikan perspektif yang sangat penting mengenai bagaimana Indonesia membangun fondasi ekonomi yang semakin kuat, adaptif, dan berdaya saing. Berbagai gagasan yang disampaikan menjadi bagian penting dalam melihat peluang pembangunan ke depan,” ujar Abdul Harris Bobihoe.

Kota Bekasi Berpeluang Memperkuat Peran dalam Pertumbuhan Ekonomi

Abdul Harris menegaskan, Kota Bekasi memiliki posisi strategis dalam mendukung aktivitas perekonomian nasional. Letaknya sebagai bagian dari kawasan metropolitan memberikan peluang bagi daerah tersebut untuk terus mengembangkan sektor perdagangan, jasa, industri, ekonomi kreatif, serta berbagai kegiatan ekonomi berbasis masyarakat.

Menurutnya, peluang tersebut perlu diimbangi dengan upaya menciptakan iklim investasi yang kondusif, memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kota Bekasi akan terus mendorong terciptanya ekosistem yang kondusif bagi investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah. Tentunya hal ini membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, baik pemerintah, dunia usaha, investor, maupun masyarakat,” jelasnya.

Ia berharap berbagai gagasan yang dibahas dalam forum tersebut dapat menjadi referensi bagi pengembangan kebijakan pembangunan daerah. Pertukaran pandangan antara pemerintah dan dunia usaha juga diharapkan membuka peluang kerja sama yang mendukung pengembangan potensi ekonomi Kota Bekasi.

Abdul Harris menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi pada akhirnya perlu memberikan dampak nyata terhadap kualitas hidup masyarakat. Peningkatan investasi dan pengembangan sektor produktif diharapkan berjalan seiring dengan terbukanya peluang usaha, lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan warga.

“Pada akhirnya, pembangunan ekonomi harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Kita ingin pertumbuhan ekonomi nasional berjalan beriringan dengan kemajuan daerah, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara nyata dan berkelanjutan oleh masyarakat,” pungkasnya.

Hilirisasi Didorong untuk Meningkatkan Nilai Tambah Industri

Dalam pembukaan Investor Daily Summit 2026, Executive Chairman B-Universe Enggartiasto Lukita menyampaikan bahwa Oktober 2026 menjadi momentum untuk melihat perkembangan fondasi ekonomi yang dibangun menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Dua tahun merupakan masa penting untuk melihat fondasi yang sedang dibangun, sekaligus memperkuat keyakinan terhadap arah yang hendak dituju,” ujar Enggartiasto.

Forum tersebut turut menyoroti agenda hilirisasi sebagai salah satu strategi pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Penguatan investasi melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai model ekonomi Indonesia ke depan.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah masih melakukan konsolidasi terhadap struktur kementerian koordinator yang baru.

“Yang sudah pasti itu Kementerian ESDM serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi,” kata Bahlil di sela kegiatan Investor Daily Summit 2026.

Bahlil juga menyinggung kemungkinan keterlibatan Kementerian Perindustrian dalam koordinasi tersebut. Menurutnya, agenda hilirisasi berkaitan erat dengan penguatan industrialisasi agar pengolahan sumber daya alam dapat menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Selain itu, Bahlil menyinggung wacana moratorium pembangunan industri produk setengah jadi di sektor nikel. Arah kebijakan tersebut berkaitan dengan dorongan agar proses hilirisasi tidak berhenti pada produk antara, tetapi berlanjut hingga menghasilkan produk akhir yang memiliki nilai ekonomi lebih besar.

Pembahasan hilirisasi tersebut memperlihatkan pentingnya keterpaduan kebijakan investasi dan industrialisasi. Pengembangan industri bernilai tambah menjadi salah satu isu yang dibahas dalam upaya memperkuat struktur ekonomi nasional.

AI dan Energi Terbarukan Jadi Perhatian Investor

Selain sektor industri, perkembangan kecerdasan buatan dan pertumbuhan pusat data atau data center turut menjadi perhatian dalam forum tersebut. Kedua bidang itu berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur digital dan ketersediaan pasokan energi untuk menopang pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.

Dewan Pengarah Danantara sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyoroti besarnya kebutuhan energi seiring perkembangan teknologi AI dan pembangunan pusat data.

Menurut Hashim, perkembangan teknologi tersebut berpotensi menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi baru. Namun, pemanfaatannya membutuhkan dukungan infrastruktur dan pasokan energi yang memadai.

Ia juga menyinggung potensi bonus demografi Indonesia, khususnya generasi muda yang dinilai adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dalam kesempatan tersebut, Hashim menyampaikan rencana pemerintah terkait program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt untuk mendukung kebutuhan listrik pusat data.

“Keunggulan Indonesia, bonus demografi anak muda yang adaptif teknologi. Untuk itu pemerintah siapkan program PLTS 100 GW guna pasok listrik data center,” tambah Hashim.

Pembahasan tersebut menegaskan bahwa transformasi ekonomi tidak hanya berkaitan dengan pengolahan sumber daya alam. Pengembangan teknologi digital, infrastruktur energi, investasi, serta penguatan tata kelola badan usaha milik negara (BUMN) juga menjadi bagian dari diskusi mengenai daya saing ekonomi Indonesia.

Sinergi Pusat dan Daerah Dibutuhkan

Investor Daily Summit 2026 menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai strategi menghadapi tantangan ekonomi sekaligus menangkap peluang pertumbuhan baru. Isu hilirisasi, penguatan investasi, pengembangan AI, dan penyediaan energi menunjukkan luasnya bidang yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan pembangunan nasional.

Bagi Kota Bekasi, pembahasan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangkan potensi perdagangan, jasa, industri, dan ekonomi kreatif. Meski demikian, penerjemahan gagasan nasional ke dalam kebijakan daerah memerlukan perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan, kewenangan, serta kondisi ekonomi setempat.

Kolaborasi pemerintah daerah dengan dunia usaha dan investor juga menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Kerja sama tersebut perlu diarahkan pada kegiatan produktif yang mampu memperluas kesempatan kerja, meningkatkan kapasitas usaha, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kehadiran Abdul Harris Bobihoe dalam forum tersebut diharapkan memperluas perspektif Pemerintah Kota Bekasi terhadap perkembangan kebijakan ekonomi nasional. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana peluang investasi, perkembangan teknologi, dan penguatan sektor produktif dapat diterjemahkan menjadi langkah pembangunan yang relevan dengan kebutuhan warga Kota Bekasi.
(Dokpim/TS)

 

0 Komen