post image

Transformasi SMKN 1 Cikarang Barat: Benahi Karakter, Perluas Kemitraan Industri, Cetak Lulusan Siap Kerja

Cikarang Barat, Bintang_Save.Com — SMKN 1 Cikarang Barat terus melakukan pembenahan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan dunia industri sekaligus memperkuat posisinya sebagai sekolah vokasi yang mampu mencetak lulusan kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi dunia kerja.

Sejak menjabat pada November 2025, Kepala SMKN 1 Cikarang Barat, Agus Wimbadi, S.Pd., M.Pd., mendorong transformasi sekolah melalui penguatan disiplin, pembinaan karakter, perluasan kemitraan industri, pengembangan teaching factory (TEFA), serta program kepedulian lingkungan. Langkah tersebut diarahkan untuk membuka lebih banyak peluang bagi siswa, baik untuk bekerja, melanjutkan pendidikan, maupun berwirausaha.

Disiplin dan Karakter Menjadi Fondasi Perubahan Agus menegaskan, perubahan sekolah harus dimulai dari pola pikir dan karakter seluruh warga sekolah, terutama dalam hal kedisiplinan dan tanggung jawab. Ketika mulai bertugas, ia melihat masih banyak kelas kosong dan kegiatan pembelajaran yang belum berjalan optimal.

Melalui pembenahan budaya sekolah, tingkat kehadiran siswa dan guru kini dilaporkan mencapai sekitar 90 persen. Sekolah juga mendorong kegiatan ekstrakurikuler dan olahraga agar siswa memiliki ruang untuk mengembangkan potensi secara positif.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada Mei 2026, SMKN 1 Cikarang Barat berhasil meraih juara umum Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat SMK se-Kabupaten Bekasi.

Bagi Agus, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berprestasi. Sekolah harus memberikan ruang, dukungan, dan fasilitas agar energi siswa tersalurkan melalui kegiatan yang produktif.

Pulihkan Kepercayaan Industri, Perluas Peluang Kerja Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sekolah adalah membangun kembali kepercayaan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Menurut Agus, pada masa sebelumnya sejumlah perusahaan enggan menerima siswa untuk Praktik Kerja Lapangan (PKL) karena persoalan kedisiplinan, termasuk kebiasaan membolos dan tawuran.

Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah melakukan pembinaan karakter secara konsisten sekaligus memperkuat komunikasi dengan perusahaan. Tim hubungan industri juga didorong menjalin sedikitnya tiga nota kesepahaman (MoU) baru setiap bulan.

Upaya memperluas jaringan kemitraan tersebut diharapkan meningkatkan kesempatan PKL, pelatihan, dan rekrutmen bagi siswa maupun alumni. Sekolah juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan, di antaranya Mitsubishi, Hyundai, dan Rucika.

Agus menyampaikan bahwa kesempatan rekrutmen yang sebelumnya relatif terbatas kini semakin terbuka. Ia juga menyebutkan bahwa pada tahun sebelumnya, sebanyak 43 siswa dilaporkan telah direkrut Mitsubishi sebelum menerima ijazah.

Selain itu, sekolah membekali siswa dengan budaya kerja dan keterampilan nonteknis (soft skills) sebelum mengikuti PKL. Program guru tamu dari industri turut dikembangkan untuk memperbarui kompetensi guru dan siswa sesuai kebutuhan industri, termasuk perkembangan teknologi kendaraan listrik.

Di kompetensi keahlian Teknik Sepeda Motor (TSM), sekolah juga telah menjalin MoU dan memulai pelatihan sebagai langkah awal menuju pengembangan layanan authorized service center.

Sertifikasi dan Tiga Jalur Masa Depan Siswa

Penguatan kemitraan tidak hanya diarahkan pada penyerapan tenaga kerja, tetapi juga peningkatan kompetensi dan sertifikasi siswa.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah kerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU), yang memberikan kesempatan kepada 300 siswa mengikuti ujian sertifikasi pertukangan tanpa biaya. Sertifikat tersebut diharapkan menjadi nilai tambah ketika lulusan memasuki dunia kerja.

Sekolah juga berupaya membuka peluang bagi siswa jurusan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) melalui kerja sama dengan industri agar keterampilan yang dimiliki semakin sesuai dengan kebutuhan pasar.

Agus menegaskan, sekolah harus mempersiapkan masa depan siswa melalui tiga jalur, yakni bekerja, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan berwirausaha.

Untuk jalur pendidikan tinggi, sekolah menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi guna membantu siswa mempersiapkan seleksi masuk. Sementara itu, melalui program Sekolah Pencetak Wirausaha (SPW), siswa didorong mengembangkan potensi usaha secara mandiri.

Sekolah juga mulai memperluas penjajakan peluang kerja ke luar negeri. Namun, menurut Agus, upaya tersebut membutuhkan pendampingan untuk membangun kesiapan mental siswa sekaligus memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai kesempatan kerja internasional.

Teaching Factory Jadi Prioritas Pengembangan

Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Agus menargetkan pengembangan teaching factory (TEFA) di berbagai kompetensi keahlian sebagai salah satu langkah untuk mengembalikan posisi SMKN 1 Cikarang Barat sebagai sekolah unggulan dan pusat keunggulan di Kabupaten dan Kota Bekasi.

Saat ini, TEFA telah berjalan di kompetensi keahlian Teknik Pemesinan. Sekolah selanjutnya mendorong pengembangan TEFA pada kompetensi keahlian TPMI melalui kerja sama dengan PT Daikas Metal serta Teknik Kendaraan Ringan (TKR) melalui kolaborasi dengan Mitsubishi Kramayuda.

Kompetensi keahlian lainnya juga diharapkan mengikuti langkah tersebut sehingga pembelajaran berbasis industri dapat diterapkan secara lebih luas.

Menurut Agus, TEFA memungkinkan siswa mempelajari budaya kerja, proses produksi, dan standar penyelesaian pekerjaan secara langsung di lingkungan sekolah. Dengan demikian, siswa memperoleh pengalaman yang mendekati kondisi industri tanpa sepenuhnya bergantung pada ketersediaan tempat PKL di perusahaan.

Pengembangan TEFA menjadi salah satu agenda strategis sekolah untuk memperkuat relevansi pembelajaran, meningkatkan keterampilan teknis, dan mempersiapkan lulusan agar lebih kompetitif.

SACIBA Go Green and Clean, Bidik Adiwiyata Provinsi

Selain pembenahan akademik dan kemitraan industri, SMKN 1 Cikarang Barat juga mendorong program SACIBA Go Green and Clean untuk membangun budaya hidup bersih dan kepedulian terhadap lingkungan.

Dengan luas lahan sekitar 7,6 hektare, sekolah memiliki potensi untuk mengembangkan lingkungan belajar yang hijau, bersih, dan nyaman. Namun, Agus menilai potensi tersebut harus disertai perubahan perilaku, terutama dalam kedisiplinan membuang sampah dan menjaga kebersihan.

Ke depan, sekolah berencana mengoptimalkan lahan kosong untuk mendukung ketahanan pangan, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta mendaur ulang sampah plastik menjadi produk yang bermanfaat.

Agus juga berharap adanya dukungan pemerintah dalam penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah agar program dapat berjalan optimal.

Melalui SACIBA Go Green and Clean, ia menargetkan sekolah dapat meraih penghargaan Adiwiyata hingga tingkat Provinsi Jawa Barat sekaligus mengembangkan budaya peduli lingkungan di kalangan siswa.

Kolaborasi untuk Masa Depan Sekolah

Agus menekankan bahwa transformasi sekolah membutuhkan konsistensi, keterlibatan seluruh warga sekolah, dukungan pemerintah, serta kemitraan yang berkelanjutan dengan dunia industri dan masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan sekolah tidak hanya diukur dari proses pembelajaran, tetapi juga dari perubahan karakter siswa, prestasi, kompetensi lulusan, dan terbukanya kesempatan bagi mereka untuk menentukan masa depan.

Melalui pembenahan disiplin, perluasan kemitraan industri, pengembangan TEFA, sertifikasi kompetensi, penguatan kewirausahaan, dan kepedulian lingkungan, SMKN 1 Cikarang Barat berupaya membangun kembali kepercayaan publik serta memperluas manfaat pendidikan vokasi bagi siswa dan masyarakat. (TS)

0 Komen