“Krisis Guru Mengintai Sekolah, Korwas Cikarang Barat: Jangan Sampai Mutu Pendidikan Jadi Korban!”
Cikarang Barat, Bintang_Save.com – Persoalan kekurangan tenaga pendidik di sejumlah sekolah dasar (SDN) dan sekolah menengah pertama (SMPN) di Kabupaten Bekasi dinilai tidak boleh terus dibiarkan berlarut-larut. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak langsung terhadap proses pembelajaran dan kualitas pendidikan peserta didik.
Hal itu disampaikan Koordinator Pengawas (Korwas) Kecamatan Cikarang Barat, H. Nahrowi, S.Pd., M.Pd saat berbincang dengan Bintang_Save.com di sela kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah di SDN Telajung 04, Kecamatan Cikarang Barat, Rabu (9/9/2026).
Menurut Nahrowi, kekurangan guru saat ini menjadi salah satu persoalan yang cukup serius karena berdampak terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Bahkan, di sejumlah sekolah masih ditemukan guru yang harus menangani lebih dari satu tugas atau bidang pembelajaran akibat keterbatasan tenaga pendidik.

“Kekurangan guru itu memang cukup luar biasa, terutama dalam proses pembelajaran. Ada beberapa guru yang harus memegang rangkap, bahkan ada guru mata pelajaran tertentu yang diperbantukan untuk mengajar di bidang lainnya,” ujar Nahrowi.
Ia mencontohkan, guru olahraga maupun guru agama di beberapa sekolah harus diperbantukan menjadi guru kelas. Sebaliknya, ketika kebutuhan pembelajaran harus tetap berjalan, guru kelas juga dapat diminta menangani pembelajaran olahraga atau pendidikan agama.
Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian serius pemerintah karena seorang guru pada dasarnya memiliki kompetensi dan latar belakang bidang keilmuan masing-masing.
“Kalau guru matematika harus mengajar bidang lain yang bukan kompetensinya, tentu tidak semua materi dapat dikuasai secara maksimal. Begitu juga sebaliknya. Ini yang harus menjadi perhatian,” katanya.
Jangan Sampai Kekurangan Guru Menurunkan Mutu Pendidikan
Nahrowi menilai, apabila persoalan kekurangan guru terus dibiarkan, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh sekolah dan guru, tetapi juga oleh peserta didik.
Ia mengkhawatirkan mutu pendidikan di sekolah tidak dapat mencapai hasil maksimal apabila kebutuhan tenaga pendidik tidak sebanding dengan jumlah rombongan belajar maupun bidang mata pelajaran yang harus dilayani.
“Kalau kondisi seperti ini dibiarkan berlarut, mutu pendidikan kita bisa tidak maksimal. Pendidikan anak-anak juga bisa terdampak karena proses pembelajaran tidak ditangani oleh guru yang sesuai dengan bidangnya,” tegasnya.
Karena itu, Nahrowi berharap pemerintah tidak hanya melihat persoalan pendidikan dari sisi pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap ketersediaan sumber daya manusia, khususnya guru.
Menurut dia, keberadaan guru yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan setiap mata pelajaran merupakan salah satu faktor penting agar program sekolah dapat berjalan dengan baik.
Pemerintah Pusat dan Daerah Diminta Lebih Peka
Persoalan kekurangan guru tersebut, lanjut Nahrowi, bukan hanya terjadi di satu sekolah. Secara umum, persoalan serupa masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah dan jenjang pendidikan.
Untuk itu, ia mendorong pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Bekasi, agar melakukan pemetaan kebutuhan guru secara lebih menyeluruh.
Pemetaan tersebut dinilai penting agar penambahan dan distribusi guru benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, baik pada jenjang SDN maupun SMPN serta berdasarkan bidang mata pelajaran.
“Saya berharap kepada pemerintah agar pemenuhan tenaga pendidikan ini segera dilakukan dan lebih memperhatikan jumlah guru yang ada di SD maupun SMP. Setiap kecamatan memiliki persoalan yang hampir sama terkait kekurangan guru,” ungkapnya.
Nahrowi juga menekankan pentingnya langkah nyata pemerintah dalam memenuhi kebutuhan tenaga pendidik. Menurutnya, persoalan guru tidak dapat terus dipandang sebagai persoalan administratif semata, karena menyangkut langsung masa depan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
Generasi Emas 2045 Jangan Hanya Jadi Slogan
Kritik tersebut menjadi penting di tengah ambisi pemerintah untuk mempersiapkan sumber daya manusia menuju Generasi Emas Indonesia 2045.
Menurut Nahrowi, cita-cita tersebut harus dibarengi dengan kesiapan sistem pendidikan dari tingkat paling dasar. Jangan sampai target besar pembangunan sumber daya manusia justru menghadapi kendala mendasar berupa keterbatasan tenaga pendidik di sekolah.
Ketersediaan guru yang memadai dan sesuai kompetensi, kata dia, harus menjadi bagian penting dari strategi pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Kita berharap penambahan guru segera dilakukan. Pemerintah pusat tidak bisa lagi main-main dengan persoalan kekurangan guru. Harus lebih peka melihat kondisi sekolah dan kebutuhan guru di lapangan,” tegasnya.
Ia berharap kebutuhan guru, khususnya di wilayah Kecamatan Cikarang Barat, dapat segera mendapatkan solusi. Sebagai Korwas yang melihat kondisi sekolah secara langsung, Nahrowi menilai pemenuhan guru merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda terlalu lama.
“Kita berharap anak-anak generasi sekarang ke depan bisa menjadi generasi yang lebih baik. Itu membutuhkan kesiapan sekolah, termasuk ketersediaan guru di setiap sekolah, baik SDN maupun SMPN. Semoga pemerintah dapat segera bertindak dan benar-benar mendukung kemajuan pendidikan anak-anak kita,” pungkasnya.
Bintang_Save.com – Kekurangan guru bukan sekadar persoalan jumlah tenaga pendidik. Jika tidak segera ditangani, persoalan tersebut berpotensi menjadi hambatan dalam mewujudkan proses pembelajaran yang berkualitas. Pemerintah dituntut hadir dengan pemetaan kebutuhan, penambahan, serta distribusi guru yang lebih tepat sasaran agar cita-cita mencetak Generasi Emas 2045 tidak berhenti pada slogan, tetapi benar-benar dimulai dari ruang-ruang kelas di sekolah. (TS)
0 Komen