Program SIAP BUGARKAN Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi Sasar 100 Warga Karang Asih, Dorong Penurunan Stunting
CIKARANG UTARA, Bintang_Save.com – Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi terus mendorong upaya percepatan penurunan stunting melalui program SIAP BUGARKAN (Strategi Intervensi Inklusif Aksi Peningkatan Konsumsi Ikan melalui Budaya Gemar Makan Ikan).
Program tersebut dilaksanakan melalui pembagian ikan segar kepada 100 penerima manfaat yang menjadi sasaran intervensi penanganan stunting di Desa Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara, Rabu (30/9/2026).

Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Desa Karang Asih dan dihadiri oleh para penerima manfaat, jajaran Pemerintah Desa Karang Asih, perwakilan Puskesmas Karang Asih, serta tim dari Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi.
Program ini tidak hanya diarahkan kepada anak yang mengalami stunting, tetapi juga menyasar kelompok yang memiliki keterkaitan dengan upaya pencegahan masalah gizi, termasuk ibu hamil dan remaja putri yang mengalami anemia.
Dinas Perikanan: Ikan sebagai Bagian dari Intervensi Gizi
Kepala Bidang Penguatan Daya Saing Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi, Wahyudin, mengatakan program SIAP BUGARKAN diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pemberian bantuan semata. Menurutnya, konsumsi ikan perlu terus didorong menjadi bagian dari pola makan keluarga sehari-hari.
Ia menekankan bahwa keberhasilan penanganan stunting membutuhkan dukungan berbagai pihak, karena persoalan gizi tidak dapat ditangani hanya oleh satu sektor.
“Harapan kami, program ini didukung lintas sektor dan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Perlu sinergi antara Dinas Perikanan, Dinas Kesehatan, pemerintah desa, PKK, pelaku usaha perikanan, serta dukungan anggaran yang konsisten,” ujar Wahyudin.
Menurutnya, keberlanjutan program juga penting agar manfaat intervensi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Dinas Perikanan, kata Wahyudin, berharap program tersebut dapat diperluas ke desa-desa lain di Kabupaten Bekasi yang masih membutuhkan intervensi terkait persoalan gizi.
Selain itu, program tersebut diharapkan dapat dikaitkan dengan penguatan budidaya ikan lokal sehingga ketersediaan ikan sebagai sumber pangan bergizi dapat tetap terjaga.
“Yang paling dibutuhkan adalah kombinasi akses pangan bergizi, edukasi bagi orang tua, dan pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin di posyandu. Pemerintah membantu memfasilitasi, tetapi kebiasaan makan sehat dibentuk di rumah. Karena itu kami mengajak masyarakat menjadikan ikan bagian dari menu harian keluarga,” jelasnya.
Puskesmas Pastikan Sasaran Berdasarkan Data Pertumbuhan dan Anemia
Sementara itu, Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas Karang Asih, Eulis Mar'atul Kamilah, menjelaskan bahwa penetapan sasaran program dilakukan berdasarkan data kesehatan yang dimiliki dan dipantau secara berkala oleh tenaga kesehatan.
Untuk kelompok anak yang mengalami stunting, data diperoleh dari hasil penimbangan dan pengukuran pertumbuhan anak setiap bulan yang kemudian dicatat dalam sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).
“Untuk yang stunting, datanya kami dapat dari hasil penimbangan setiap bulan dan masuk ke e-PPGBM. Dari situ terlihat anak-anak yang masuk kategori stunting,” terang Eulis.
Ia menjelaskan, salah satu indikator yang digunakan dalam menentukan kondisi stunting adalah tinggi badan menurut umur yang berada di bawah minus dua standar deviasi berdasarkan standar antropometri.
Selain anak stunting, kelompok remaja putri yang mengalami anemia juga menjadi bagian dari sasaran program. Data tersebut diperoleh melalui kegiatan screening anemia yang dilakukan oleh pihak puskesmas.
“Untuk remaja putri yang anemia, kebetulan setiap tahun kami melakukan screening anemia. Kemarin kami mengambil data dari MAN 1, karena di sana cukup banyak yang mengalami anemia,” jelasnya.
Menurut Eulis, keterlibatan tenaga kesehatan tidak berhenti pada proses pendataan penerima manfaat. Puskesmas bersama bidan desa juga melakukan pemantauan pertumbuhan anak secara rutin.
Setiap bulan, anak ditimbang dan diukur untuk melihat perkembangan berat badan maupun tinggi badannya. Hasil pemantauan tersebut menjadi bahan evaluasi terhadap perkembangan status gizi anak.
“Setiap bulan kan ada penimbangan. Kami bekerja sama dengan bidan desa, sehingga setiap bulan ada datanya. Dari situ kami melihat perkembangan baik berat badan maupun tinggi badan,” katanya.
Selain pemantauan pertumbuhan, Puskesmas juga memiliki sejumlah intervensi lain bagi anak yang mengalami masalah gizi, termasuk pemberian makanan tambahan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sasaran.
Eulis berharap program intervensi seperti SIAP BUGARKAN dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan tidak hanya menyasar satu desa.
“Semoga kegiatan ini terus berlanjut, tidak hanya tahun ini tetapi juga tahun depan. Tidak hanya Desa Karang Asih, karena desa-desa lain juga masih ada yang mengalami stunting,” harapnya.
Pemdes Karang Asih Apresiasi Program dan Dorong Keberlanjutan
Dari sisi Pemerintah Desa Karang Asih, program SIAP BUGARKAN mendapat apresiasi karena dinilai memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya kelompok yang membutuhkan dukungan dalam pemenuhan gizi.
Kaur Perencanaan Desa Karang Asih, Jaenal Aripin, SH, mengatakan sasaran program dinilai memiliki keterkaitan erat dengan upaya pencegahan dan penanganan stunting.
“Alhamdulillah, program ini sangat membantu warga kami. Sasarannya juga tepat, terutama anak stunting, ibu hamil, dan remaja putri. Semuanya saling berkaitan dalam upaya pencegahan dan penanganan masalah gizi,” ujar Jaenal.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi yang telah menjadikan Desa Karang Asih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan program.
Menurutnya, intervensi yang dilakukan secara terpadu dapat membantu pemerintah desa bersama tenaga kesehatan dalam mendorong perbaikan kondisi gizi masyarakat.
Jaenal juga menyebut bahwa sebelumnya jumlah kasus stunting di wilayah Desa Karang Asih masih cukup tinggi. Namun, berdasarkan pemantauan yang dilakukan bersama pihak kesehatan, kondisi tersebut kini menunjukkan penurunan.
“Kalau tidak salah, waktu itu jumlahnya di atas 50-an. Alhamdulillah, dengan adanya berbagai program seperti ini, angka stunting kita sekarang sudah jauh menurun,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menilai upaya penanganan stunting tetap membutuhkan kesinambungan program dan kerja sama lintas sektor.
Karena itu, Pemerintah Desa Karang Asih berharap program SIAP BUGARKAN dapat kembali dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan oleh masyarakat.
“Harapan kami ke depannya program ini bisa berkelanjutan. Karena program seperti ini sangat membantu sekali, sehingga angka stunting yang ada di desa kami bisa terus ditekan,” tuturnya.
Perlu Kolaborasi Berkelanjutan
Pelaksanaan program SIAP BUGARKAN di Desa Karang Asih menunjukkan bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah melalui Dinas Perikanan, tenaga kesehatan, pemerintah desa hingga keluarga sebagai lingkungan utama dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Pemberian ikan segar menjadi salah satu bentuk intervensi untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber pangan bergizi. Namun, keberhasilan jangka panjang tetap membutuhkan edukasi, pola konsumsi sehat di tingkat keluarga, pemantauan pertumbuhan anak secara rutin, serta kesinambungan program.
Dengan kolaborasi lintas sektor tersebut, program SIAP BUGARKAN diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dalam bentuk bantuan pangan, tetapi juga mendorong tumbuhnya budaya konsumsi ikan sebagai bagian dari pola makan sehat keluarga di Kabupaten Bekasi.(ADV)
0 Komen