post image

Triwulanan Sanggar Pakuan Pasundan: Menjaga Nyala Tradisi dari Tangan Generasi Muda

  • Administrator
  • 30 Nov 2025
  • Budaya
  • 36 Lihat

BEKASI, bintang-save.com— Dengan memadukan semangat seni dan amanat konstitusi, Sanggar Tari Pakuan Pasundan kembali menggelar evaluasi Triwulanan, sebuah ajang penilaian berkala bagi para murid dalam menapaki pembelajaran tari tradisional. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (30/11/2025) di Gedung Wibawa Mukti Creative Hub, Kabupaten Bekasi, ini menegaskan peran sanggar sebagai bagian dari ekosistem pelestarian budaya, sejalan dengan Pasal 32 UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Triwulanan bukan sekadar forum penampilan, tetapi wadah memotret perkembangan kemampuan teknis dan artistik para penari muda. Hadir sebagai tim penilai, Supraptini, S.Pd—owner Sanggar Ruang Tumbuh—bersama Siti Nurhasanah atau Ainun, pendiri Sanggar Pakuan Pasundan.

Dalam keterangannya, Supraptini yang akrab disapa Mbok Prapti menyambut baik pelaksanaan evaluasi ini. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Evaluasi triwulanan dapat memperlihatkan perkembangan murid sekaligus mengukur seberapa jauh pemahaman mereka terhadap tari tradisional yang diajarkan oleh guru muda yang berbakat ini,” ujarnya.

Ia menyoroti kiprah Ainun, yang pada usia belum genap 17 tahun telah memikul tanggung jawab besar membina sekitar 30 murid. Perjalanan Ainun yang dimulai sejak duduk di bangku kelas 7 SMP menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap budaya dapat tumbuh sejak dini dan berkembang menjadi karya nyata bagi masyarakat.

Ainun sendiri memandang Triwulanan sebagai cermin potensi generasi muda Bekasi. “Banyak anak muda berbakat terlihat hari ini. Mereka adalah penerus bangsa, pewaris budaya Nusantara yang perlu dibimbing agar kesenian tradisional tetap hidup,” tuturnya. Dengan lembut, ia menegaskan pentingnya peran negara dalam pembinaan budaya sebagaimana diamanatkan UU Pemajuan Kebudayaan. “Seharusnya Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Kebudayaan melakukan pembinaan terhadap sanggar-sanggar tari tradisional dalam rangka menjaga kelestarian budaya Nusantara,” tambahnya.

Lebih dari sekadar ajang penilaian, Triwulanan menjadi ruang pembentukan karakter. Melalui setiap lenggang tari, para murid belajar disiplin, kerja keras, serta rasa cinta tanah air. Budaya hadir bukan sebagai simbol masa lalu, tetapi sebagai identitas yang menjembatani generasi ke generasi.

Dari Bekasi, Sanggar Pakuan Pasundan menghadirkan secercah cahaya bahwa seni tradisi akan tetap hidup selama masih ada generasi muda yang bersedia menari, dan ada bangsa yang berkomitmen menjaga warisannya.
(CP/red)

 

0 Komen