Warga Jatimulya Kembali Suarakan Tuntutan di Depan PT Suzuki
Bekasi, bintang-save.com – Di tengah deru kawasan industri Tambun Selatan, ratusan warga Kelurahan Jatimulya kembali berdiri di depan gerbang PT Suzuki Indomobil Motor, Kamis (5/2/2026) pagi. Spanduk terbentang, suara orasi bergantian terdengar, menyuarakan satu hal yang sama: keinginan untuk diakui sebagai mitra, bukan sekadar penonton di wilayah sendiri.
Aksi damai yang dikoordinasikan Forum RW se-Jatimulya ini bukan yang pertama. Bagi warga, kehadiran perusahaan otomotif besar yang telah beroperasi puluhan tahun di lingkungan mereka belum sepenuhnya menghadirkan manfaat langsung, terutama dalam bentuk kerja sama usaha dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Sejak pagi, massa berkumpul di depan pintu utama perusahaan di Jalan Diponegoro. Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan kepolisian, meski sempat diwarnai penutupan akses masuk melalui pintu utama dan Jalan Inspeksi Kalimalang. Langkah tersebut, menurut warga, merupakan bentuk tekanan agar aspirasi mereka tidak kembali berakhir tanpa kepastian.
Suranto, salah satu peserta aksi, menyebut warga telah berulang kali mencoba membuka komunikasi dengan manajemen perusahaan. Namun upaya itu, menurutnya, belum menghasilkan tindak lanjut yang jelas. Ia menilai tuntutan warga bersifat wajar, mengingat perusahaan berdiri dan beroperasi di tengah lingkungan permukiman yang selama ini ikut menanggung dampak aktivitas industri.
Ketua Forum RW Jatimulya, Syaiful Hajat, menegaskan bahwa warga tidak sedang menuntut bantuan instan. Ia menolak pola hubungan yang hanya berorientasi pada CSR atau bantuan sosial sesekali. Menurutnya, masyarakat ingin dilibatkan dalam kerja sama usaha yang berkelanjutan agar dapat berkontribusi langsung bagi pembangunan Jatimulya di masing-masing wilayah RW.
Baginya, kemitraan tersebut bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal keadilan sosial dan rasa memiliki terhadap wilayah sendiri.
Koordinator Aksi, Sondi Silalahi, menambahkan bahwa selama lebih dari 30 tahun operasional PT Suzuki Indomobil Motor, belum ada skema kerja sama usaha yang benar-benar melibatkan masyarakat Jatimulya. Ia menilai kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan industri dan pemberdayaan warga di sekitarnya.
Sondi juga mengungkapkan bahwa berbagai surat dan aksi sebelumnya kerap berujung pada janji tanpa realisasi. Situasi tersebut, kata dia, justru memperbesar kekecewaan warga dan memicu aksi lanjutan.
Hingga aksi berakhir, pihak PT Suzuki Indomobil Motor belum menemui massa ataupun menyampaikan pernyataan resmi. Warga berharap perusahaan segera membuka ruang dialog yang konkret dan setara, agar relasi antara industri dan masyarakat sekitar tidak terus diwarnai jarak dan kekecewaan.
Bagi warga Jatimulya, aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan upaya mempertanyakan kembali peran industri besar di tengah komunitas lokal: apakah hanya hadir sebagai entitas ekonomi, atau juga sebagai mitra sosial yang bertanggung jawab. (AM)
0 Komen