post image

Guru adalah Pilar Bangsa, Tapi Mengapa Masih Kurang Diperhatikan?

Bekasi, Bintang Save – Di tengah semarak pembahasan dunia  pendidikan terselip kisah penuh makna dari seorang guru senior yang telah puluhan tahun mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan.
Guru yang memilih untuk tidak disebutkan namanya tersebut membuka kisahnya dengan sederhana, namun penuh keteguhan. Baginya, menjadi guru bukanlah sekadar profesi, melainkan panggilan hati.
“Menjadi guru itu bukan untuk mencari kekayaan materi. Ini panggilan hati. Kita mungkin tidak kaya harta, tapi kita kaya pengabdian. Apa yang kami lakukan adalah bagian dari amal dalam mencerdaskan anak bangsa,” ungkapnya.


Perjalanan panjangnya dimulai sejak tahun 1995 saat pertama kali mengajar di SMA Negeri 1 Sukatani. Setelah melewati berbagai dinamika, kini ia mengabdi di SDN. Lebih dari dua dekade mengajar, ia telah merasakan berbagai suka dan duka menjadi seorang pendidik.
Suka yang dirasakan adalah saat melihat anak didiknya tumbuh, berkembang, dan berhasil. Namun di balik itu, terdapat duka yang tidak sedikit—terutama terkait kesejahteraan dan penghargaan terhadap profesi guru.
Ia menuturkan bahwa dirinya baru diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) pada tahun 2023, setelah menunggu selama bertahun-tahun dalam ketidakpastian.
“Kami sudah mengabdi puluhan tahun. Tapi baru belasan tahun kemudian ada kejelasan status. Itu pun masih banyak guru lain yang belum seberuntung kami,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyoroti kondisi yang menurutnya belum adil, ketika tenaga kerja di sektor lain justru lebih cepat mendapatkan pengangkatan dibanding guru yang telah lama mengabdi.
“Kalau melihat kondisi sekarang, jujur saja terasa tidak adil. Ada yang baru bekerja beberapa bulan sudah diangkat, sementara guru yang sudah puluhan tahun mengabdi masih belum diperhatikan. Bahkan banyak yang gajinya masih di bawah UMR,” tuturnya dengan nada prihatin.
Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan, khususnya kesejahteraan guru, masih perlu ditingkatkan secara serius. Ia menegaskan bahwa guru adalah pilar utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.
“Guru itu cerminan bangsa. Kalau gurunya diperhatikan, anak-anak bangsa akan lebih berkualitas. Kalau pendidikan kuat, negara pasti maju,” tegasnya.
Dalam refleksi mendalamnya, ia juga mengingatkan pentingnya peran guru dalam sejarah bangsa lain, seperti Jepang yang bangkit setelah tragedi besar karena tetap memiliki tenaga pendidik.
“Jepang setelah Hiroshima yang dicari pertama itu guru. Karena selama masih ada guru, mereka yakin bisa bangkit. Itu yang seharusnya menjadi pelajaran bagi kita,” tambahnya.
Di akhir perbincangan, ia menyampaikan harapan tulus kepada pemerintah agar lebih memperhatikan nasib guru, terutama yang telah lama mengabdi.
“Tolong perhatikan kesejahteraan guru. Kami sudah mengabdi bertahun-tahun. Harapannya ke depan ada jaminan yang lebih baik, termasuk kesejahteraan dan masa depan kami,” harapnya.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, semangatnya untuk mendidik tidak pernah surut. Ia tetap yakin bahwa melalui tangan guru, masa depan bangsa dapat dibentuk.
“Semangat tidak boleh redup. Kami akan terus mendidik dengan hati, agar anak-anak Indonesia menjadi generasi yang tangguh, cerdas, dan siap membangun negeri,” pungkasnya. (TS)

0 Komen