Dialog Kebangsaan di Gedung Juang ’45, PIPJATBANG Tekankan Pancasila Harus Hidup dalam Tindakan Nyata
Bekasi, bintang-save.com - Perkumpulan Instruktur Penggiat Jati Diri Bangsa (PIPJATBANG) menggelar Dialog Kebangsaan dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila ke-81 di Museum Digital Gedung Juang ’45, Desa Mekarsari, Kecamatan Tambun Selatan, Sabtu (30/5/2026) malam.
Mengangkat tema “Memfaktakan Pancasila sebagai Jati Diri Bangsa Indonesia”, kegiatan tersebut menyoroti pentingnya penerapan nilai-nilai Pancasila secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah derasnya arus digital dan tantangan sosial yang dihadapi generasi muda.
Dialog kebangsaan itu menghadirkan narasumber dari unsur kepolisian, TNI, akademisi, serta diikuti mahasiswa dan tokoh masyarakat.
Dr. Hj. Widiningsih, M.Pd., dalam pemaparannya menegaskan bahwa Pancasila harus kembali ditempatkan sebagai jati diri bangsa yang berpijak pada nilai keimanan dan kemanusiaan.
Menurutnya, implementasi Pancasila tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari dengan menjunjung nilai kemanusiaan dan kesadaran spiritual.
“Kita harus selalu ingat bahwa setiap tindakan kita dilihat oleh Allah SWT. Karena itu, jangan sampai menyakiti sesama manusia. Pancasila harus dijalankan dengan berpedoman pada keimanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan pendidikan karakter sejak usia dini agar nilai-nilai Pancasila tertanam kuat pada generasi muda.
Menurut Widiningsih, pembiasaan nilai toleransi dan kemanusiaan sejak anak-anak menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya bullying maupun sikap intoleran di lingkungan masyarakat.
“Harapan kami, penguatan nilai-nilai Pancasila ini bisa terus dilakukan secara rutin hingga menyentuh anak-anak usia SD bahkan TK,” katanya.
Kapolsek Tambun Selatan, Kompol Wuryanti, S.H., M.H., menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila sejatinya telah menyatu dengan kehidupan masyarakat dan harus diwujudkan melalui tindakan konkret.
Menurutnya, penerapan nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, hingga penyelesaian persoalan masyarakat secara humanis merupakan bentuk nyata implementasi Pancasila.
“Nilai-nilai Pancasila itu sudah menjadi darah bagi kami,” ujarnya.
Wuryanti mencontohkan program bank sampah yang pernah digagasnya sebagai salah satu bentuk implementasi nilai sosial di tengah masyarakat. Ia menilai persoalan sampah yang tampak sederhana dapat berkembang menjadi gangguan keamanan apabila tidak ditangani bersama.
“Pernah ada warga yang sampai baku hantam karena persoalan sampah. Artinya, hal kecil pun bisa berdampak besar kalau tidak dikelola dengan baik,” katanya.
Sementara itu, AKP Hari Santoso, S.H., M.Si., menyoroti tantangan era digital yang dinilai dapat mengancam persatuan bangsa apabila masyarakat tidak bijak menggunakan media sosial.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat saat ini hidup di era *post-truth*, ketika informasi bohong yang dibungkus kebencian dapat dianggap sebagai kebenaran.
“Kita harus sadar bahwa di balik akun media sosial itu ada manusia nyata yang punya perasaan. Jangan sampai penggunaan media sosial justru menyakiti orang lain dan merusak persatuan,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat memanfaatkan media sosial untuk hal-hal positif, seperti membantu sesama, menyebarkan informasi bermanfaat, hingga mempromosikan potensi daerah.
“Gunakan jari-jari kita untuk membuat konten kreatif dan positif,” katanya.
Hal senada disampaikan Danramil 01/Tambun Czi Sali. Ia menilai penguatan nilai-nilai Pancasila harus dimulai dari lingkungan keluarga guna membentengi generasi muda dari pengaruh negatif seperti tawuran dan penyalahgunaan narkoba.
“Pendidikan Pancasila harus dimulai dari rumah. Karena pengaruh negatif saat ini sangat mudah masuk kepada anak-anak muda,” ujarnya.
Menurutnya, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai slogan, melainkan harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pemilihan Gedung Juang Tambun sebagai Lokasi Acara
Ketua panitia kegiatan, Kumala Chandra Yuga S., S.Pd., M.T., mengatakan dipilihnya Gedung Juang ’45 sebagai lokasi acara karena memiliki nilai sejarah yang erat dengan perjuangan bangsa Indonesia.
“Gedung Juang memiliki nilai historis yang tinggi. Kami ingin semangat perjuangan itu kembali dihidupkan melalui penguatan nilai-nilai Pancasila,” ucapnya.
Ia menyebut kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa dari Universitas Bhayangkara dan Universitas Ibnu Khaldun sebagai upaya memperkuat pemahaman kebangsaan di kalangan generasi muda.
Menurut Kumala, kegiatan serupa direncanakan kembali digelar tahun depan dengan skala yang lebih besar dan melibatkan pelajar tingkat SMP maupun SMA.
Pancasila Disebut Identitas Bangsa Indonesia
Acara dibuka oleh Camat Tambun Selatan yang diwakili Kasi PMD Kecamatan Tambun Selatan, Sumitra. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Pancasila merupakan identitas bangsa Indonesia yang membedakannya dari negara lain.
“Dalam butir-butir Pancasila terkandung nilai luhur yang diyakini seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan dialog kebangsaan seperti itu dapat terus dilaksanakan sebagai upaya menjaga dan memperkuat jati diri bangsa.
Selain menghadirkan dialog kebangsaan, acara juga diisi dengan pemberian bantuan kepada warga kurang mampu serta pertunjukan pencak silat dari sejumlah padepokan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penampilan live musik dari Social Bandit yang membawakan lagu-lagu bertema nasionalisme.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua MWC NU Kecamatan Tambun Selatan KH Dede Ismail, perwakilan MUI Kecamatan Tambun Selatan KH Luthfi Mutawali, tokoh masyarakat Abah Atok, serta unsur masyarakat dan mahasiswa. (Ccp)
0 Komen